Hari ini aku mendapatkan pengalaman hidup yang luar biasa. Saat siang hari sekitar jam 1 siang, saya sedang melintas di jalan raya prapen, Surabaya, Jawa Timur. Saya melintas dari arah terminal bratang menuju ke selatan. Bertepatan di sebelah selatan SMP, saya melihat sat Pol PP sedang berkerumun di pinggir jalan, ada sekitar 15 an orang dengan menggunakan 4 mobil pickup. Memeng tidak ada kericuhan kelihatanya. Para pedagang di sekitar SMP terlihat dengan sukarela memindahkan barang dagangannya yang berada di atas trotoar. Saya sengaja mengurangi kecepatan sepeda motor saya, sengaja biar melihat jelas ada apa gerangan.
Sambil mengambil jalur paling kiri, saya masih tetap memperlambat laju sepeda motor. Mungkin dikasih tau orang-orang yang lewat, sehingga para pedagang kaki 5 yang berada di sebelah selatan SMP tersebut cepat-cepat mengemasi lapak-lapak serta meja dan kursi. Ada yang terlihat tergopoh-gopoh, ada juga yang sambil tertawa ngakak-ngakak.
Nah, sekitar satu kiloan saya yang masih memperlambat laju sepeda motor saya, tiba-tiba saya diberhentikan oleh seorang nenek Tua. Dengan suara parau, dan tatapan mata yang ketakutan nenek tersebut bertanya kepada saya: "Onok obrakan ta nak?" tanya si nenek. "Nggih Mbah," Jawabku. Lalu si nenek bertanya lagi. "Wes sampek ngendi Nak?" Nenek itu tanya lagi. " Udah nyampek sebelah SMP Mbah?" jawabku. "Suwun yo nak....? Nenek itu membalikkan badan, sambil mengemasi barang dagannya berupa makanan berupa kue-kue basah dan rokok serta minuman air mineral gelas.
Yang aku sempat bergetar di dadaku adalah, waktu dia berkata " Onok obrakan ta nak....? Suarannya ito lo.....kayaknya ada ketakutan dan rasa ketidak berdayakan sebagai rakyat kecil, yang sebenarnya dia juga tau bahwa berjualan diatas trotoar itu adalah tidak benar. Cuma mungkin hanya itu yang bisa dia kerjakan hanya untuk mendapatkan hasil yang bisa dibuat untuk makan.
Aku sempat berhenti sejenak sekita satu kilometer dari tempat si nenek tadi. Jika itu terjadi pada orang tuaku atau diriku sendiri, atau anak-anakku, betapa sedihnya...... Disitulah aku menarik napas dalam-dalam. Bahwa betapa banyaknya nikmat yang diberikan oleh Allah kepadaku dan juga keluargaku. Dan sudah sepatutnya aku bersyukur atas nikmat yang telah diberikan oleh-Nya kepada ku.
Ya Allah lindungilah hambamu ini dari sifat-sifat buruk, dan tunjukkanlah aku dijalan Mu. Serta bersihakanlah hati para pejabat negeri ini dari sifat-sifat buruk. sehingga bisa memberikan pelayanan yang terbaik untuk negeri ini. Dan akhirnya rakyat mendapatkan kehidupan yang layak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar